14 Zona Merah Megathrust di Indonesia, Ini Data Terbarunya

14 Zona Merah Megathrust di Indonesia, Ini Data Terbarunya
Zona Megathrust.

Indonesia kembali diingatkan akan ancaman gempa besar Megathurst yang disebut-sebut hanya tinggal menunggu waktu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peta terbaru yang mengungkap keberadaan 14 zona merah megathrust tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Angka ini bertambah satu zona dibanding peta sebelumnya pada 2017 yang hanya mencatat 13 lokasi.

Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Iswandi Imran, mencatat adanya peningkatan kerapatan kontur bahaya gempa di beberapa kawasan. Artinya, tingkat risiko di sejumlah daerah kini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Temuan ini bukan untuk menakuti, melainkan sebagai pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu ditingkatkan oleh masyarakat.

Anggota Komisi VIII DPR, Sandi Fitrian Noor, menekankan pentingnya tindakan kolektif mulai dari pemerintah pusat hingga masyarakat di tingkat keluarga.

Apa itu Megathrust?

Megathrust merupakan zona pertemuan antara dua lempeng tektonik raksasa yang saling bertumbukan. Di wilayah ini, energi tektonik terakumulasi dalam jumlah sangat besar selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Ketika energi yang tersimpan mencapai titik maksimal dan tiba-tiba terlepas, muncullah gempa berkekuatan dahsyat. Gempa jenis ini mampu mencapai magnitudo di atas 8,0 hingga 9,0 skala Richter. Lebih berbahaya lagi, getaran besar di bawah laut dapat memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir.

Indonesia berada di jalur pertemuan beberapa lempeng besar dunia, termasuk Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Posisi geografis inilah yang membuat Tanah Air memiliki banyak zona megathrust aktif.

14 Titik Zona Merah Megathrust

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, berikut 14 zona megathrust yang wajib diwaspadai:

  1. Aceh-Andaman: potensi gempa hingga magnitudo 9,2
  2. Nias-Simelue: potensi gempa hingga magnitudo 8,7
  3. Batu: potensi gempa hingga magnitudo 7,8
  4. Mentawai-Siberut: potensi gempa hingga magnitudo 8,9
  5. Mentawai-Pagai: potensi gempa hingga magnitudo 8,9
  6. Enggano: potensi gempa hingga magnitudo 8,9
  7. Jawa: potensi gempa hingga magnitudo 9,1
  8. Jawa bagian barat: potensi gempa hingga magnitudo 8,9
  9. Jawa bagian timur: potensi gempa hingga magnitudo 8,9
  10. Sumba: potensi gempa hingga magnitudo 8,9
  11. Sulawesi Utara: potensi gempa hingga magnitudo 8,5
  12. Palung Cotobato: potensi gempa hingga magnitudo 8,3
  13. Filipina Selatan: potensi gempa hingga magnitudo 8,2
  14. Filipina Tengah: potensi gempa hingga magnitudo 8,1

Di Indonesia sendiri, terdapat 11 titik zona merah megathrust yang tersebar di berbagai wilayah, dengan potensi gempa yang sangat besar.

Sementara itu, di Filipina terdapat tiga zona megathrust yang masuk dalam daftar pemantauan, yaitu Palung Cotobato (8,3), Filipina Selatan (8,2), dan Filipina Tengah (8,1).

Dua zona yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kedua wilayah ini berada dalam kondisi seismic gap, yaitu belum melepaskan energi besar sejak ratusan tahun lalu—masing-masing sejak 1757 dan 1797.

Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, Jepang, mengungkapkan bahwa karakteristik geologi Indonesia mirip dengan zona Nankai Trough di Jepang.

Kawasan tersebut merupakan salah satu wilayah megathrust paling aktif di dunia dengan interval gempa besar sekitar 50 hingga 100 tahun.

Kapan Megathrust Terjadi?

Gempa megathrust tidak bisa diprediksi waktunya. Tidak ada teknologi atau metode ilmiah yang mampu memastikan tanggal, jam, atau tahun terjadinya gempa besar.

Ungkapan bahwa megathrust “tinggal menunggu waktu” sering disalahpahami sebagai ramalan. Padahal, istilah itu hanya menjelaskan kondisi geologis dari energi terus menumpuk karena belum dilepaskan oleh gempa besar sebelumnya.

Para peneliti memantau perubahan kecil pada kerak bumi melalui teknologi satelit dan pengukuran dasar laut. Dari situ, mereka bisa membaca adanya regangan atau pergeseran lambat yang menjadi petunjuk bahwa tekanan sedang meningkat, tetapi bukan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi.

Mitigasi Gempa Megathrust

Menghadapi ancaman yang tidak bisa diprediksi waktunya, langkah mitigasi menjadi krusial. BMKG dan pemerintah mendorong sejumlah upaya persiapan:

  • Kenali potensi ancaman di lingkungan sekitar: Pahami apakah wilayah tempat tinggal berada di zona rawan gempa atau tsunami. Pelajari karakteristik geografis lingkungan.
  • Kuasai protokol keselamatan: Pelajari langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah gempa terjadi. Khusus untuk wilayah pesisir, ingat protokol “LARI, JAUH, TINGGI” saat gempa besar terjadi.
  • Identifikasi jalur evakuasi: Ketahui lokasi rambu evakuasi, titik kumpul, dan jalur menuju tempat aman. Pastikan semua anggota keluarga memahami rute evakuasi.
  • Bangun konstruksi tahan gempa: Pastikan bangunan rumah atau tempat tinggal memenuhi standar konstruksi tahan gempa yang berlaku.
  • Sosialisasi masif hingga tingkat RT/RW: Pemerintah perlu menyebarkan informasi bahaya megathrust, peta risiko, dan jalur evakuasi hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
  • Pastikan sistem peringatan dini berfungsi optimal: Early warning system untuk gempa dan cuaca ekstrem, termasuk semua sensor, harus dipastikan beroperasi dengan baik.
  • Lakukan simulasi evakuasi berkala: Latihan rutin untuk menghadapi skenario gempa-tsunami dan bencana lainnya perlu dilakukan secara berkala.
  • Tegakkan aturan tata ruang: Konsistensi penegakan regulasi, termasuk moratorium pembangunan di zona sempadan pantai dan kawasan rawan longsor, harus diterapkan ketat.
Penulis yang gemar merangkai fakta menjadi cerita ringan dan tajam, membahas peristiwa, teknologi, hingga informasi bansos secara aktual.