Apa itu Sinkhole? Fenomena Tanah Amblas yang Muncul di Sumbar

Apa itu Sinkhole? Fenomena Tanah Amblas yang Muncul di Sumbar
Sinkhole di Sumbar (harianhaluan).

Kemunculan sinkhole menggemparkan warga Sumatra Barat awal Januari 2026 lalu. Peristiwa yang mengguncangkan ini terjadi di area persawahan Nagari Situjuh Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, tepatnya pada tanggal 4 Januari.

Adrolmios, pemilik sawah berusia 61 tahun, baru menyadari keanehan pada lahannya saat siang hari. Seorang warga bernama Mak Etek Uwid yang tengah beraktivitas di sekitar sawah mendengar gemuruh menggelegar seperti bunyi ledakan dahsyat.

Ketika ditelusuri, sawah yang tadinya hanya retak-retak kering kini berubah menjadi jurang menganga. Lubang raksasa itu terus membesar, berisi genangan air dengan kedalaman diperkirakan mencapai 20 meter.

Kejadian misterius ini langsung memicu kepanikan dan kebingungan di kalangan masyarakat setempat. Bagaimana mungkin tanah yang selama ini mereka pijak tiba-tiba lenyap membentuk lubang sebesar itu?

Apa itu Sinkhole?

Sinkhole merupakan lubang besar yang terbentuk saat permukaan tanah tiba-tiba ambles ke bawah. British Geological Survey menggambarkan bentuknya seperti cekungan piring yang muncul akibat lapisan batuan di kedalaman mengalami keruntuhan atau pengikisan. Ketika fondasi bawah tanah ini hilang, permukaan di atasnya kehilangan penopang dan akhirnya jatuh ke dalam.

Bentuk dan ukuran lubang ambles ini sangat bervariasi, bergantung pada karakteristik batuan yang ada di bawah permukaan serta mekanisme pembentukannya.

Beberapa sinkhole bahkan bisa menelan aliran sungai yang kemudian menghilang masuk ke sistem saluran bawah tanah—fenomena yang dikenal sebagai lubang dangkal.

Ade Edward, pakar Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi serta Vulkanologi, menjelaskan bahwa kejadian di Sumatra Barat tersebut memang tergolong sinkhole. Karakteristik khasnya adalah kemunculan di wilayah yang memiliki struktur batuan kapur atau gamping di lapisan bawah permukaan.

“Perlu pengkajian lebih mendalam untuk memastikan komposisi batuannya. Namun secara umum, sinkhole memang lazim muncul di daerah yang fondasinya tersusun dari batuan kapur atau gamping,” ungkap Ade dalam pernyataannya.

Badan Geologi Kementerian ESDM menambahkan bahwa lubang berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman kurang lebih 15 meter ini terbentuk bukan karena runtuhan batu gamping secara langsung.

Setelah tim melakukan investigasi lapangan, terungkap bahwa amblesan terjadi akibat erosi buluh—proses pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang berlangsung bertahap.

Lokasi kejadian ternyata berada pada endapan lapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung, bukan pada batuan gamping sebagaimana umumnya sinkhole terbentuk.

Lapisan ini bertekstur halus dan mengandung mineral lempung. Bagian bawahnya berupa batu gamping malihan yang bersifat kedap air, sehingga aliran air tertahan dan menggerus lapisan tanah di atasnya secara perlahan.

Fenomena ini umumnya muncul di kawasan dengan batuan mudah larut dan memiliki jaringan saluran air bawah tanah yang kompleks.

Yang membuatnya berbahaya adalah kemunculannya yang bisa sangat cepat, bahkan tanpa tanda-tanda peringatan sebelumnya. Karena itu, kewaspadaan terhadap zona rawan sinkhole sangat krusial, terutama saat merencanakan pembangunan atau aktivitas lainnya untuk meminimalkan risiko.

Penyebab Munculnya Sinkhole

Terbentuknya sinkhole dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, baik proses alamiah maupun campur tangan manusia. United States Geological Survey (USGS) mengidentifikasi beberapa penyebab utama yang perlu dipahami:

1. Proses Geologi Karst

Air tanah dan air hujan mengandung karbon dioksida yang memberikan sifat asam ringan. Sifat asam ini mampu melarutkan batuan yang rentan seperti batu kapur, gipsum, dan batu karbonat lainnya.

Pelarutan yang berlangsung selama ribuan tahun ini menciptakan rongga dan gua-gua bawah tanah. Saat rongga terus membesar dan kehilangan kemampuan menopang beban di atasnya, keruntuhan pun terjadi.

2. Perubahan Muka Air Tanah

Penurunan level air tanah akibat kekeringan berkepanjangan atau pemompaan berlebihan untuk keperluan irigasi dapat menghilangkan tekanan air yang berfungsi menopang rongga bawah tanah. Sebaliknya, curah hujan ekstrem dan banjir juga bisa memicu keruntuhan karena tanah menjadi jenuh air dan kehilangan kekuatannya.

3. Intensitas Curah Hujan Tinggi

Seperti yang terjadi di Limapuluh Kota, wilayah dengan curah hujan tinggi mencapai 2.000-2.500 milimeter per tahun sangat rentan. Air hujan yang melimpah mempercepat proses erosi bawah permukaan dan memperbesar kemungkinan amblesan.

4. Erosi Internal dan Pelarutan

Aliran air bawah tanah yang terus-menerus membawa partikel tanah dan batuan keluar dari bawah permukaan menciptakan ruang kosong. Proses ini dimulai dari terbentuknya rekahan di permukaan yang menjadi jalur masuk air, kemudian membentuk rongga bawah permukaan hingga akhirnya tanah di atasnya runtuh.

5. Aktivitas Manusia

Pembangunan infrastruktur seperti jalan atau gedung, pengubahan aliran air, pengeboran air tanah berlebihan, dan penggalian tanah dapat mempercepat pembentukan sinkhole. Lahan pertanian intensif dengan sistem irigasi yang kurang baik juga berpotensi memicu fenomena serupa.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap tanda-tanda awal seperti munculnya retakan tanah yang terus membesar. Jika menemukan gejala tersebut, segera laporkan kepada pihak berwenang untuk penanganan cepat.

Badan Geologi merekomendasikan lubang yang sudah terbentuk dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan memasang pagar pengaman di sekelilingnya.

Penulis yang gemar merangkai fakta menjadi cerita ringan dan tajam, membahas peristiwa, teknologi, hingga informasi bansos secara aktual.