Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja merilis data nilai rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA, SMK, dan MA tahun 2025.
Hasilnya cukup mengejutkan, terdapat kesenjangan signifikan antarmata pelajaran yang mencerminkan tantangan pembelajaran di tingkat sekolah menengah atas.
Lebih dari 3,5 juta siswa mengikuti tes ini, dan capaian mereka menggambarkan potret nyata kemampuan akademik generasi muda Indonesia saat ini.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan bahwa data ini bukan untuk membuat peringkat sekolah atau membandingkan wilayah.
Sebaliknya, angka-angka tersebut menjadi cermin bersama untuk memahami kebutuhan riil pembelajaran di kelas dan merancang strategi perbaikan yang lebih tepat sasaran.
Rata-rata Nilai TKA SMA 2025 Semua Mata Pelajaran
Berdasarkan rekapitulasi Kemendikdasmen, mata pelajaran wajib yang diikuti hampir seluruh peserta menampilkan hasil yang beragam. Berikut daftar lengkapnya:
Mata Pelajaran Wajib:
- Bahasa Indonesia Wajib: 55,38 (3.477.893 peserta)
- Matematika Wajib: 36,10 (3.489.148 peserta)
- Bahasa Inggris Wajib: 24,93 (3.509.688 peserta)
Mata Pelajaran Pilihan Umum:
- PPKn: 60,91 (1.089.508 peserta)
- Projek Kreatif dan Kewirausahaan: 56,34 (1.283.878 peserta)
- Biologi: 54,40 (716.882 peserta)
- Sosiologi: 60,07 (698.877 peserta)
Mata Pelajaran Lanjutan:
- Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut: 68,02 (392.303 peserta)
- Matematika Lanjut: 39,32 (401.081 peserta)
- Bahasa Inggris Lanjut: 45,23 (215.600 peserta)
Mata Pelajaran Sains:
- Fisika: 37,65 (295.167 peserta)
- Kimia: 34,92 (362.436 peserta)
- Ekonomi: 31,68 (620.359 peserta)
Mata Pelajaran Sosial Humaniora:
- Antropologi: 70,43 (25.046 peserta)
- Geografi: 70,36 (309.042 peserta)
- Sejarah: 62,72 (398.045 peserta)
- Bahasa Arab: 64,97 (77.375 peserta)
Bahasa Asing Lainnya:
- Bahasa Mandarin: 57,66 (11.142 peserta)
- Bahasa Jepang: 55,21 (42.374 peserta)
- Bahasa Prancis: 45,05 (1.796 peserta)
- Bahasa Jerman: 36,59 (5.937 peserta)
- Bahasa Korea: 28,55 (2.539 peserta)
Lebih lengkapnya, data hasil nilai TKA dapat diakses melalui laman resmi https://tka.kemendikdasmen.go.id/hasiltka/.
Mapel dengan Nilai TKA Tertinggi dan Terendah
Antropologi mencatat prestasi paling gemilang dengan nilai rata-rata 70,43, diikuti Geografi (70,36) dan Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut (68,02).
Toni menjelaskan bahwa mata pelajaran dengan capaian tinggi ini umumnya menuntut kemampuan analisis mendalam, pemahaman konteks, dan penalaran—bukan sekadar hafalan.
Di sisi lain, Bahasa Korea menjadi mata pelajaran dengan nilai terendah yakni 28,55. Disusul Ekonomi (31,68), Kimia (34,92), Bahasa Jerman (36,59), dan Fisika (37,65).
Penyebab Nilai Rata-rata TKA 2025 Rendah
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusaspendik) BSKAP Kemendikdasmen, Rahmawati, membedah penyebab rendahnya nilai matematika yang hanya mencapai 36,10.
Menurutnya, konten soal sebenarnya tidak rumit, namun cara penyajian pertanyaan membuat siswa kesulitan.
Rahmawati memberikan contoh konkret. Soal tentang data dan peluang biasanya langsung menanyakan rata-rata dari lima angka. Namun dalam TKA 2025, soal dikemas berbeda—siswa diminta menganalisis lima data dengan total 30, kemudian menentukan nilai yang hilang berdasarkan syarat tertentu seperti produksi minimal per hari dan tidak ada nilai yang sama.
“Siswa terbiasa dengan pertanyaan langsung, tapi kurang terlatih mengaitkan data dengan ketentuan naratif yang disajikan secara terpisah. Padahal jika dipahami dengan tenang, ketentuan tersebut sebenarnya berupa kalimat sederhana,” ungkap Rahmawati seperti dinukil dari detik.com.
Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran di sekolah perlu lebih menekankan pemahaman konseptual dan kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks berbeda, bukan hanya menghafal rumus atau prosedur standar.
Hasil TKA akan diserahkan kepada dinas pendidikan pada 23 Desember 2025 dan diintegrasikan ke sistem Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Data ini diharapkan menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa.









Tinggalkan Komentar
Buka Komentar